Ini cerpen dibikin karena ada tugas sekolah waktu kelas X tahun 2010. Apa adanya banget. Dan untuk Charon, maaf saya telah mengambil judul novel anda untuk cerpen saya:(
lets, cekidot!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kanaya, please. Pasti kemaren lu ga kemo?” tebak Calista, sahabat Kanaya sewaktu Calista menjemput Kanaya untuk pergi ke sekolah karena melihat wajah Kanaya yang pucat.
Kanaya hanya menganggukkan kepalanya.
“Astaga Nayaaaa! Lu kenapa gitu? Bukannya seminggu sekali lu mesti kemo dan periksa ke dokter, kan? Yaudah, naik aja. Bandel banget sih.” kata Calista sambil membukakan pintu mobilnya dan segera berangat ke sekolah.
“Naya, ini hari Senin. Kita pasti upacara, gue yakin entar bapak Kepala Sekolah bakal panggil nama lu karena lomba kemaren dan lu bakal maju ke mimbar, nay!” kata Calista.
“Iya, iya . gue tau kok, ta. Jangan panik dong.” jawab Kanaya.
Sesampai di sekolah, Kanaya dan Calista pun langsung menuju kelas mereka, XII IPA1. Di depan pintu XII IPA1 sudah terlihat Ray. Yaa, Ray adalah teman Kanaya dari kecil dan namun sekarang Ray dan Kanaya telah menjalin sesuatu hubungan yang spesial.
“Pagi Ray. Ngapain kamu berdiri di depan kelas aku pagi-pagi gini? Ngebuka gembok pintu ya? Haha” canda Kanaya kepada pacarnya, Ray.
“Haha, iya dong sayang. Aku bukain pintu spesial untukmu.” gombal Ray.
“Ahh, gombal. Ayo masuk!” tawar Kanaya.
“Yaelah, spesial? Martabak kali spesial?. Pagi-pagi udah pacaran aja dan gue ga diajak masuk lagi.” celetuk Calista.
“Eh, maaf Calista. Lo jangan gitu ah. Ayo masuk!” kata Kanaya.
“Nay, kamu kenapa? Kemaren ga ke dokter?” tanya Ray ketika melihat wajah Kanaya yang pucat.
Kanaya lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.
“Bandel kamu ya! Lain kali jangan gitu lagi dong.”
10 menit kemudian, upacara pun berlangsung dengan khitmat. Bapak Kepala Sekolah pun memberi pengumuman.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat pagi anak-anak !! SMAN 7 yang kita cintai ini kembali mendapatkan penghargaan dari lomba cerdas cermat Fisika yang kemarin Sabtu telah dilaksanakan mendapatkan juara 2 ! Dimohon kepada ananda Kanaya Vanessa kelas XII IPA1 maju ke depan untuk menggambil piala ini.” kata bapak Kepala Sekolah diiringi tepuk tangan siswa-siswi SMAN 7.
“Nay, lu yakin kuatkan?” tanya Calista ragu-ragu.
Kanaya hanya membalas dengan senyum manisnya.
“Selamat ya Kanaya, terimakasih kamu telah membanggakan SMAN 7 lagi dibidang Fisika.” kata bapak Kepala Sekolah.
“Iya bapak, sama-sama.” sahut Kanaya sambil bersalaman.
Tak beberapa lama, Kanaya jatuh pingsan. Ia segera digotong para PMR ke UKS. Piala yang dipegang Kanaya pun ikut terjatuh. Ray dan Calista segera berlari ke UKS yang tak mempedulikan upacara lagi.
Ray duduk disamping kanan Kanaya dan Calista duduk disamping kirinya. Mereka menatap Kanaya begitu dalam. Mereka tau umur Kanaya mungkin tidak akan lama lagi. Kanaya telah divonis oleh dokter telah menderita kanker otak. Ayah Kanaya telah meninggal dunia 8 bulan yang lalu karena penyakit kanker otak juga.
Calista menggenggam tangan kiri Kanaya dan Ray menggenggam tangan kanannya. Mereka tidak peduli tidak mengikuti pelajaran hari ini demi Kanaya.
Tiba-tiba mata Kanaya terbuka secara perlahan.
“Calista? Ray?” ucap Kanya perlahan.
“Nayaaa, akhirnya lo sadar juga.” kata Calista.
Kanaya hanya tersenyum tipis.
“Nay, aku hubungin mama kamu ya supaya kamu dibawa ke dokter?” tawar Ray.
Kanaya menatap mata Ray lama dan akhirnya Ray mencoba menghubungi mama Kanaya.
“Hallo… Ada apa Ray?” tanya mama Kanaya disebrang sana.
“Hallo juga tante. Maaf ya tan, kalau Ray mengganggu sekarang. Kanaya tadi pingsan, dan Alhamdulillah sekarang sudah siuman.” jawab Ray.
“Naya pingsan, Ray? Pasti karena kemarin dia tidak periksa ke dokter. Oke, tante akan segera jemput Naya di sekolah dan membawanya ke dokter. Terimakasih ya nak Ray.”
“Iyaa, tante”
15 menit kemudian mama Kanaya datang ke sekolah.
“Tante….” kata Ray dan Calista bersamaan sambil mencium tangan mama Kanaya.
“Ray Calista… Astaga Naya! Calista tante boleh minta tolong ya nak, tolong ambilkan tas Naya di kelas, Naya mau tante bawa ke dokter aja biar aja dia ga masuk sekolah hari ini.” pinta mama Kanaya.
“Mama! Naya ga mau ke dokter! Naya udah kelas XII, ma. Bentar lagi Naya ujian! Minggu depan Naya harus TryOut! Naya ga mau ketinggalan pelajaran hanya karena ini !” kata Kanaya.
Mama Kanaya, Ray, Calista serta guru yang menjaga UKS melihat kearah Kanaya.
“Nayaa, kamu harus lebih mementingkan kesehatan mu dulu, baru pelajaran. Kali ini kamu harus nurut apa kata mama.” kata Ray sambil mengusap kepala Kanaya.
“Tapiiii…..” Kanaya berusaha memotong omongan Ray.
“Tapi lo harus ke dokter sekarang, Nay.” sambung Calista.
Kanaya hanya mengangguk pasrah. Calista mengambilkan tas Kanaya di kelas. Setelah itu Kanaya dan mamanya pergi ke rumah sakit.
Kanaya direbahkan di tempat tidur ruangan dokter Jordy Dwitama seperti biasa. Dokter Jordy mengajak ngobrol dengan mama nya Kanaya.
“Maaf bu jika saya harus mengatakannya, kanker otak Kanaya sudah akut dan menginjak stadium 4. Jadi Kanaya sudah tidak bisa sekolah seperti biasa lagi, Kanaya harus terus di rawat di Rumah Sakit ini sampai dia harus melaksanakan operasi” ucap doker Jordy Dwitama.
Wajah mama Kanaya terlihat begitu sedih ketika mendengarnya.
Semenjak apa yang dikatakan dokter Jordy itu, Kanaya sudah tidak pernah masuk sekolah lagi hampir satu bulan. Kanaya sering memaksa mama nya agar dia dapat bersekolah seperti biasa, namun mama selalu melarangnya demi kesehatannya. Ray dan Calista pun setiap hari mengunjungi Kanaya di rumah Sakit, mereka selalu men-support Kanaya.
“Mama, Naya bosan di sini. Naya ingin main ke pantai bersama mama, Ray dan Calista. Boleh ya ma? Naya pengen banget ngeliat sunset bareng.” tanya Kanaya sambil melihat mama nya, Ray dan Calista yang sedang mengunjunginya.
Belum sempat mama nya menjawab Kanaya menambahkan pertanyaannya tadi.
“Ayolah ma, 3600 detik saja.. ya ma ya? Naya mohon!”
“Iyaa, mama juga mau kok sayang jalan-jalan ke pantai bareng kamu serta Ray dan Calista. Tapi sebentar mama Tanya Dokter Jordy dulu ya sayang?” jawab Mama.
Kanaya hanya tersenyum sambil menoleh kearah Ray dan Calista.
Mama Kanaya berjalan menuju Kanaya sambil tersenyum.
“Boleh kan, ma?” tanya Kanaya.
“Iya boleh sayang.” jawab mama Kanaya sambil tersenyum.
Mama Kanaya menggeluarkan mobil putihnya, Kanaya yang duduk di kursi roda didorong oleh Ray dan Calista disebelah kanan nya menuju parkiran. Kanaya masih tetap dengan selang di hidungnya. Setelah tiba di depan mobil mama nya dan masuk, mereka pun langsung menuju ke pantai. Kanaya duduk di belakang bersama Ray, sedangkan Calista duduk di depan bersama Mama Kanaya. Ray mengelus-ngelus dengan lembut kepala Kanaya.
Setelah tiba di pantai, mereka bermain bersama. Mama Kanaya hanya duduk diatas tikar yang sudah digelarnya tadi, ia hanya melihat tawa kecil dari bibir Kanaya. Ia takut jikalau tidak bisa melihat senyum manis buah hatinya lagi. Ia melihat Kanaya begitu bahagia di hari ini.
“Nay, lo gue tinggalin berdua dulu ya ama Ray. Gue pengen nemenin mama kamu aja disana, kasian nay mama lo sendiri.” kata Calista.
“ya udah..” jawab Kanaya perlahan.
Calista pun meninggalkan Ray dan Kanaya. Ray yang awalnya berdiri dibelakang kursi roda Kanaya berpindah jadi ke samping kanan kursi rodanya Kanaya. Ray pun duduk berjongkok, tangan kanannya menggenggam tangan Kanaya dan tangan kirinya merangkul bahu Kanaya. Mereka berdua saling bertatapan.
“Kanaya, aku takut banget jika besok aku udah ga bisa liat wajah dan senyum manismu lagi. Karena aku tau, melupakanmu itu butuh waktu seumur hidupku. Aku sayang kamu sampai kapan pun Kanaya.” batin Ray sambil menggenggam erat tangan Kanaya, dan dengan perlahan air mata dari matanya menetes.
“Ray, kamu kenapa nangis sayang? Aku ada disisimu kok. Aku ga lari juga. Jangan nangis ya Ray..” kata Kanaya.
“Aku takut Naya..” sahut Ray.
“Ga usah takut Ray, ga ada apa-apa juga kok disini..”
Ray terdiam dan menatap Kanaya begitu dalam. Matahari yang berada diufuk barat menandakan hari sudah senja. Langit disana sudah berwarna jingga. Kanaya berusaha berdiri dari kursi rodanya secara perlahan, dan Kanaya berduduk di samping kanan Ray. Kembali Ray menggenggam erat tangan Kanaya dan memeluknya seolah-olah dia tak ingin lepas dari Kanaya. Mereka memandang sunset yang begitu indah.
Tiba-tiba Kanaya berkata “Ray, aku sayang kamu. Kamu jangan nakal yaa. Maaf aku ga bisa bahagiakan kamu, sayang..” Tangan Kanaya yang digenggam Ray begitu dingin, wajah Kanaya begitu pucat. Ray masih terus memeluk erat Kanaya !! Ray berteriak “Kanayaaaaaaaaaa…..!!!”
Ya, hari begitu cepat berlalu. Hari itu adalah hari terakhir mereka melihat tawa Kanaya. Sekarang mereka telah berada di pemakaman Kanaya. Mama nya tidak menyangka jika Kanaya pergi secepat ini. Begitupun Ray dan Calista. Mama Kanaya dan Calista menangis melihat Kanaya dimakamkan. Banyak kerabat, guru, keluarga Kanaya yang hadir dalam pemakaman tersebut. Ray hanya tertunduk sedih. Teman-teman Ray terus menabahkan Ray. Mama Kanaya dan Calista pulang ke rumah, begitupun yang lain. Hanya tersisa Ray seorang dipemakaman tersebut. Ray terus menatap batu nisan yang bertuliskan ‘KANAYA VANESSA-14 JUNI 1993-14 JANUARI 2011’. Ray seolah-olah tidak percaya dengan semua ini.
“Kanaya, sekarang aku hanya bisa menatap batu nisanmu! 3600 detik kemarin telah kita lalui bersama. Di 3600 detik terakhir itu lah aku sungguh sayangi kamu, begitu cepatnya kamu meninggalkanku! Kamu jahat Nay! Jahat!! Nayaaa, aku mau sekarang kamu dipelukanku lagi seperti kemarin. Maaf Naya kalau selama ini aku belum bisa bahagiakanmu. Sekarang aku akan mencoba menjalani hari-hariku yang sunyi. Selamat jalan sayang, semoga kamu tenang di sana. Sampai bertemu nanti di sana..” kata Ray sambil mengusap batu nisan Kanaya dan sambil menghapus butiran-butiran air yang jatuh ke pipinya. Setelah itu, Ray pulang ke rumahnya.
Tepat tanggal 14 Juni hari ini. Hari ini merupakan hari ulang tahun Kanaya yang ke 18. Sepulang sekolah Ray dan Calista singgah ke pemakaman Kanaya. Mereka membawakan bunga mawar merah kesukaan Kanaya. Setelah 15 menit disana Calista pun pulang, hingga tersisa Ray seorang. Ray berkata “Selamat Ulang Tahun yaa Kanaya ku sayang. Aku selalu mencintaimu. Semoga kamu bahagia disana.” Ray sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Ray pun berkat lagi “Oiya sayang, aku bingung ingin mengukir nama kita berdua dimana. Jika ku tulis di pantai maka akan terhapus dengan ombak. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengukir nama kita berdua dihatiku aja karena tidak akan ada yang bisa menghapusnya. Akan ku tulis ‘Raynald Pratama dan Kanaya Vanessa SELAMANYA’ I love YOU, Kanaya….”
Komentar
Posting Komentar