Genap 100 hari saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa pertukaran di negara jiran
Bermula dari akhir September 2015 hingga awal Januari 2016
Lika liku kehidupan sebagai mahasiswa pertukaran pun dirasakan
Meskipun kata orang, Malaysia tak jauh beda dengan Indonesia tapi bagi saya beda.....
Dari segi bahasa memang hampir sama, terlebih saya sebagai orang Banjar yang bahasanya ada bau-bau Melayu dan cukup saya mengerti
Contoh kecil, seringkali tetangga kamar di DPP saya berteriak kata-kata "lipas"
Saya sih mengerti itu artinya kecoak karena di bahasa Banjar juga itu hehe namun roomate saya tidak tau apa itu lipas
Sering sekali miss comunication dengan teman-teman disana karena kami yang masih belajar dan masih sering menggunakan bahasa Indonesia
Seringkali kita menemukan bahasa-bahasa unik, seperti nyanyuk yang artinya pikun, kebajikan yang artinya kesejahteraan dalam bahasa Indonesia kemudian penyelidikan yang artinya penelitian, dan adapula warga tua yang artinya lanjut usia dan bahasa-bahasa lainnya hihi
Penting sekali kita dapat berbahasa Inggris
Kalau di STKS saya dapat menemui orang dari Sabang sampai Merauke, tapi kalau di University Utara Malaysia ada disetiap penjuru negara! Wow!
Dalam kelas research yang saya ikuti saja saya memiliki teman dari India, Afrika,Uzbekistan, Somalia, Thailand dan seorang dosen yang berasal dari Filipina. Ya memang kelas yang saya ikuti itu kelas internasional.
| Ada dari berbagai negara disini |
Terlepas dari kelas yang saya ikuti, karena alat transportasi yang digunakan disana ialah bus jadi saya sering berjumpa dengan warga negara lainnya
Tidak bermaksud rasis, tapi saya cukup bisa membedakan orang dari Afrika, Somalia, dan Nigeria hehehe
Nah tadi saya sudah sedikit menyinggung tentang alat transportasi yaitu bus
| Dan akhirnya bus yang ditunggu pun datang hihi |
Dari DPP baik mau ke kelas, mau ke Changloon (tempat perbelanjaan yang butuh waktu 15 menit dengan kecepatan 80km), atau mau kemanapun
Ya terkecuali orang sana asli yang memang memiliki alat transportasi pribadi
Kalau biasanya di STKS bisa berangkat 5 menit sebelum kelas tapi di UUM harus sudah standby sekitar 30-45 menit di bus stop (biasanya kita sebut halte) agar tidak terlambat ke kelas
Susah sekali mencari bus saat hari libur! Huft saya sempat kesel disini kalau ada ada kegiatan karena bus hanya ada dalam satu jam sekali
Apalagi untuk pergi ke Changloon seringkali tidak ada
Oh ya kalo bus untuk ke Changloon itu juga tersedia dari jam 4 sore hingga 10 malam (balik ke UUM)
Untuk urusan makanan memang agak susah karena mayoritas makanan disana berlemak
Kami pun selalu galau kalau ingin makan hehe
Ya hampir setiap hari kami makan ayam goreng!
Entah kenapa ayam goreng disana lezaaaaaattt sekali
Mungkin ini alasan upin ipin menyukai ayam goreng sama seperti kami:"
Kemudia ada juga nasi lemak, dan roti canai untuk sarapan hihi
Kalau saya membahas tentang fasilitas yang ada di UUM sangaaaaat lengkap
| Nasi lemak 1RM |
| Roti canai kesayangan |
Dari full wifi disetiap area dan cepat, perpustakaan yang cantik sampai saya pernah menghabiskan waktu dari pukul 9 pagi hingga 9 malam disana hihi ya maklum saya perpustakaan disana hampir 24 jam buka, kemudian lapangan golf, sirkuit go-kart, GOR, lapangan pacu kuda, taman rusa hingga mall dan masih banyak lagi
Dan semua fasilitas yang ada dinikmati secara gratis!!!
Subhanallah beruntungnya saya bisa jadi mahasiswa pertukaran disini:")
Beberapa arena ada yang dikenakan biaya 5RM seperti pacuan kuda dan bermain gokart
Dan semua fasilitas yang ada dinikmati secara gratis!!!
Subhanallah beruntungnya saya bisa jadi mahasiswa pertukaran disini:")
Beberapa arena ada yang dikenakan biaya 5RM seperti pacuan kuda dan bermain gokart
Saya sampai bingung menyebutkan
Dari yang saya lihat karena UUM berada jauh dari pusat kota yaa kampus di tengah hutan dan otomatis mahasiswa akan sulit mengaksesnya maka dibuatlah fasilitas yang cukup lengkap
Terbayang luasnya seperti apa kan kalau fasilitasnya lengkap seperti itu? hehe
Disana orang tidak bisa sembarang merokok. Tidak seperti di Indonesia hehe
Pendeteksi asapnya peka sekali
Seringkali alarm DPP berbunyi dan bising sekali -_-
Ketilka saya tanyakan ke tetangga kamar ternyata itu bisa saja asap dari ricecooker atau apapun yang mengeluarkan asap
Ya memang tidak boleh membawa alat masak disana makanya disedikan kantin disetiap DPP
Sering sekali ada acara bazaar
Bisa diadakan oleh setiap DPP, oleh UUM itu sendiri atau karena pesta konvo (wisuda)
Banyak even-even disana
Sampai jika kita aktif dalam kegiatan maka IP kita juga berpengaruh dan selalu mendapat sertifikat
Sehingga mahasiswa disana saya akui aktif-aktif dalam berkegiatan
Untuk pelajaran, saya disana mengambil jurusan social work
Disana saya mengikuti kelas di semester 3, 5 dan 7 menyesuaikan dengan mata kuliah yang diambil di STKS
Jika di STKS memang lebih banyak penjelasan atau praktik nya langsung namun di UUM memang dominan belajar di kelas
Sensasi belajar di STKS dan UUM sungguh sangat berbeda
Kalau di STKS kita bisa santai, tapi kalau di UUM waah perjuangannya harus sampai titik darah penghabisan
Terlebih berat beban yang dibawa karena saya sebagai mahasiswa pertukaran
Momen-momen seperti presentasi, kuis, UTS dan bahkan UAS itu sangat menegangkan entah mengapa
Apalagi ketika UAS, yang biasanya di STKS jika ada ujian lokasinya di ruang kelas biasa atau bahkan bisa diganti tugas lapangan namun di UUM kita sudah pasti melaksanakan UAS
Suasana UAS? Menegangkan
Karena ruangan ujian selalu berganti dan kita tidak tau posisi duduk kita disetiap matakuliah
Selalunya ujian dilaksanakan di aula / auditorium tidak pernah ruang kelas
Dan bergabung dengan mahasiswa dari jurusan lain
Serta ruangan yang sangaaaaaat dingin hufttt
Oya, entah mengapa menemukan orang Indonesia disana sangat menyenangkan sekali
Terdapat Persatuan Pelajar Indonesia di UUM dan cukup sering mengadakan pertemuan
Hmm yaa selama di UUM memang sering sekali saya merasakan homesick
Manusiawi sih sebagai perantau
Padahal saya juga dasaranya memang mahasiswa perantau namun ini rasanya beda sekali hehe:"
Menjadi mahasiswa exchange itu harus kuat lahir batin, harus kuat secara fisik, mental, spiritual dan semuanya
Terakhir saya ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Dr. Rajwani dan Dr. Faza yang sudah seperti ibu sendiri bagi kami di UUM karena perhatian yang mereka berikan secara penuh :)
| Kegatan di Rumah Sakit Sultanah Bahiyah |
Disana saya mengikuti kelas di semester 3, 5 dan 7 menyesuaikan dengan mata kuliah yang diambil di STKS
Jika di STKS memang lebih banyak penjelasan atau praktik nya langsung namun di UUM memang dominan belajar di kelas
Sensasi belajar di STKS dan UUM sungguh sangat berbeda
Kalau di STKS kita bisa santai, tapi kalau di UUM waah perjuangannya harus sampai titik darah penghabisan
Terlebih berat beban yang dibawa karena saya sebagai mahasiswa pertukaran
Momen-momen seperti presentasi, kuis, UTS dan bahkan UAS itu sangat menegangkan entah mengapa
Apalagi ketika UAS, yang biasanya di STKS jika ada ujian lokasinya di ruang kelas biasa atau bahkan bisa diganti tugas lapangan namun di UUM kita sudah pasti melaksanakan UAS
Suasana UAS? Menegangkan
Karena ruangan ujian selalu berganti dan kita tidak tau posisi duduk kita disetiap matakuliah
Selalunya ujian dilaksanakan di aula / auditorium tidak pernah ruang kelas
Dan bergabung dengan mahasiswa dari jurusan lain
Serta ruangan yang sangaaaaaat dingin hufttt
Oya, entah mengapa menemukan orang Indonesia disana sangat menyenangkan sekali
Terdapat Persatuan Pelajar Indonesia di UUM dan cukup sering mengadakan pertemuan
| Makan bersama dosen STKS, Prof. Syarif yang sekarang mengajar di UUM |
Manusiawi sih sebagai perantau
Padahal saya juga dasaranya memang mahasiswa perantau namun ini rasanya beda sekali hehe:"
Menjadi mahasiswa exchange itu harus kuat lahir batin, harus kuat secara fisik, mental, spiritual dan semuanya
Terakhir saya ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Dr. Rajwani dan Dr. Faza yang sudah seperti ibu sendiri bagi kami di UUM karena perhatian yang mereka berikan secara penuh :)
| I LOVE YOU & I MISS YOU, DR! |
Komentar
Posting Komentar