Di awal bulan Oktober ini, masyarakat di dunia termasuk Indonesia sedang ramai membicarakan film bertemakan Joker. Bahkan mungkin seat di dalam bioskop pun full (yaa saya pun kebagian yang di bawah karena saking penuhnya). Ya, peran Joker pertama kali tayang di serial Batman hingga yang terakhir di film suicide squad. Nah saking menariknya peran Joker dalam berbagai film, akhirnya (mungkin) dibuatkanlah film khusus bertemakan Joker, menceritakan kehidupan pribadi Joker mengapa sampai Joker bersikap demikian.
Jujur, saya tertarik menonton Joker karena setelah saya membaca review netizen diluar sana, film ini menceritakan tentang Joker yang menderita mental illness. Menarik. Dan ini relevan dengan pekerjaan saya sebagai pekerja sosial dengan para penyandang disabilitas mental.
Oke, saya tidak akan spoiler tentang bagaimana alur ceritanya. Tapi, film ini sangat relevan dengan kehidupan para Penerima Manfaat di balai rehabilitasi tempat saya bekerja. I really can imagine! Kondisi dimana orang menderita gangguan kejiwaan (ODGJ) dengan berbagai latar belakang sampai pada akhirnya dia dengan santainya bisa membunuh orang (yang mungkin itu adalah bagian dari bisikan). For your information, disabilitas mental itu ada yang termasuk kedalam skizofrenia atau gangguan afektif. Dan yang terjadi pada diri Joker adalah skizofrenia, dia mengalami gangguan perasaan, perilaku, persepsi, pikiran bahkan sampai motivasi.
Ada sebab akibat kenapa Joker menjadi dirinya yang seperti itu. Selalu dipandang salah oleh orang lain, korban bullying, kekecewaan terlalu tinggi, sampai tidak ada tempat untuk berbagi perasaan. Pun dengan penyandang disabilitas mental lainnya di luar sana. Kondisi mental setiap individu berbeda-beda. Diluar sana mungkin ada berbagai orang yang mengalami kekecewaan dengan berbagai respon, ada yang mungkin “its okay, masih ada waktu, aku akan terus memperbaiki” atau mungkin ada yang merasa “sudah pasti ini hasilnya buruk, aku ga akan bisa”. Ada. Perbedaan pemikiran setiap orang kuncinya, ada yang melihat dari segi positif atau negatif. Juga dengan Joker dalam film, ketika di berikan pistol di depannya mungkin untuk saya pribadi akan saya diamkan saja, atau mungkin bagi orang lain pistol itu bermanfaat untuk menembak burung hingga untuk menembak seseorang.
Saya pernah mendengar ucapan salah seorang dokter jiwa bahwa penyakit mental ini bukan turunan. Penyakit mental adalah penyakit yang tidak dapat dirasa sakitnya sebelah mana. Bahkan jika disejajarkan dengan orang normal pada umumnya sama. Berbeda dengan orang yang memiliki penyakit pusing, yang sakit adalah bagian kepala, seringkali juga pasien tersebut menderita pucat. Setelah di beri obat, tidak lama mungkin sembuh.
Dalam hal ini, pengaruh dukungan dari orang lain (support system) sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental seseorang. Seperti Joker, dia tidak memiliki seseorang yang dia percayai untuk membagikan kisah. Alhasil yaa seperti yang sudah kalian tonton. Bahkan mungkin ada orang yang dipercayainya (seperti ibunya) dan akhirnya mengecewakannya di ending. Sebenarnya, peran pekerja sosial disini memegang andil penuh sebagai orang yang netral. Pekerja sosial disini sebagai pendengar segala curhatan dari Joker. Namun, setelah pekerja sosial disana menghilang, Joker “kambuh”. Emosinya tidak bisa di kontrol, dia mengikuti apa yang ada di dalam bisikannya. Dengan membunuh orang yang sudah jahat kepadanya, Joker merasa puas.
Beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam cerita ini adalah bahwa orang yang memiliki gangguan kejiwaan (penyandang disabilitas mengal) sangat memerlukan teman untuk sharing apa yang ia rasakan, teman untuk konsultasi, hingga pendengar yang baik agar penderita tidak memendamnya sendiri. Jika kalian disana sebagai teman dari penderita, terima cerita mereka dengan tidak meremehkan. Sebagai contoh kalian malah membalas dengan “ahh cuman gitu doang” atau kalian malah cenderung bodo amat. Tidak. Seperti yang sudah saya bilang diatas bahwa kondisi mental seseorang berbeda-beda. Tidak semestinya kita menyamaratakan mental kita yang seperti ini dengan mental orang lain. Latar belakang seseorang sangat mempengaruhi kondisi mental tersebut. Dengan menjadi pendengar yang baik atau teman mereka untuk berkonsultasi setidaknya kita bisa menghambat halusinasi yang ada di pikiran mereka.
Satu lagi, mengenai penerimaan di masyarakat. Seringkali pengetahuan masyarakat tentang penyandang disabilitas mental ini kurang. Stigma masyarakat tentang “orang gila” atau “orang stres” masih sangat sering terjadi. Meskipun si penderita tersebut sudah berada pada kondisi stabil setelah melalui masa rehabilitasi, namun yang menjadi masalah ketika penderita kembali ke masyarakat stigma tersebut tetap melekat di masyarakat. Secara tidak langsung, penderita pun berfikir “oke berarti saya adalah orang gila, mau saya gimanapun saya tetap di cap sebagai orang gila”. Sedih. Anggaplah itu menjadi masa lalu. Terimalah keunikan setiap individu. Setiap individu, baik itu keluarga, teman hingga masyarakat umum memiliki peran penting dalam hal memberikan dukungan untuk kestabilan kondisi penyandang disabilitas mental.
Jangan takut. Penyandang disabilitas mental sama dengan kita. Rangkul mereka. Jadilah good listener bagi mereka.
Dan, Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia!
#WorldMentalHealthDay

Komentar
Posting Komentar