Langsung ke konten utama

Student Exchange - Introduction, Proses Menuju UUM

What a nice sound right if you heard about student exchange atau yang biasa kita sebut dengan pertukaran pelajar (di Malaysia disebutnya Mobility).
Suatu kesempatan emas bagi saya dapat menjadi salah satu dari ke-6 pelajar exchange dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung tempat saya menuntut ilmu hingga menempuh title S.Tr.Sos kelak dengan Universiti Utara Malaysia.
Universiti Utara Malaysia (UUM) letaknya di Sintok, Kedah, bagian paling utara Malaysia dan baru terbangun pada tahun 1984. Untuk ukuran lebih kurang 1000 hektar UUM masih tergolong muda dibanding kampus saya,
Pada awalnya memang ada penawaran student exchange bagi mahasiswa semester 5 di kampus saya. Banyak diantara kami yang tertarik mengikuti program ini. Siapa yang ingin menolak kesempatan emas ini? Hingga diadakan seleksi oleh pihak kampus dan terpilihlah 7 orang yang berhak mengikuti program exchange yang notabene nya baru pertama kali diadakan di kampus saya. 
Surat Pernyataan Kelulusan kami^^

Ingat sekali ketika menerima pengumuman tersebut disaat saya sedang menjaga Ibu saya yang sedang terbaring di rumah sakit. Entah senang entah sedih saya menangis sejadi-jadinya di rumah sakit. Jujur awalnya saya sempat bimbang, masih tak percaya ini nyata apa tidak? Saya kabari ayah saya dan orang-orang terdekat saya dan ternyata mereka support saya secara penuh.
Dengan bismillah insyaallah pada bulan September (prediksi pada waktu itu) saya untuk kali pertama keluar negri, ke negara tetangga, Malaysia untuk program student exchange selama 1 semester.
Proses mengikuti program student exchange tak semudah di bayangan saya sebelumnya. Terlebih saya belum memiliki passport. Sewaktu masih di kampung halaman saya, Kalimantan Selatan, saya mengurus segala sesuatunya dari pihak kampus seperti mengisi berbagai macam form dan urusan passport ke pihak migrasi Banjarmasin.
Saya yang biasanya mengambil jadwal kembali ke Bandung H-1 perkuliahan atau H-berapa jam perkuliahan kali ini tidak. Ini beda. Saya kembali ke Bandung H-7 perkuliahan. Karena saya sadar banyak sekali yang saya urus, seperti visa untuk keberangkatan dan urusan berbagai organisasi yang kelak akan saya tinggalkan 3-4 bulan ke depan.
Begitupun ketika semasa perkuliahan, saya dan ke6 rekan saya dipusingkan dengan urusan visa yang tak kunjung rilis. Hingga penerbangan kami di tunda. Pada awalnya kami menetapkan penerbangan pada 5 September 2015, namun terkendala visa dan karena proses dari pihak STKS dan UUM yang saya akui ada sedikit keterlambatan, terlebih di STKS ini merupakan program yang pertama kali di adakan sehingga para pengurus mengalami kebingungan dan kami pun mereschedule penerbangan ke  Alor Setar, bagian dari Kedah, Malaysia pada 27 September 2015.
Sebelumnya, kami ber7 dengan 2 pendamping dari STKS diantarkan ke Jakarta, tepatnya di Menara Palma untuk pengurusan visa Malaysia. Tanpa visa kami tak bisa berangkat.
Jujur saja, sempat terpikir keputusasaan kami ber7 akan keberangkatan ini.
Tapi semua sudah diatur oleh Allah SWT dan segala urusan kami dipermudah, Alhamdulillah.
Yeahhh kami jadi berangkat tanggal 27 September 2015 !!!
Antara mimpi atau nyata
Tapi sebelum keberangkatan tersebut, kami sudah berjumpa dengan anak-anak mobility dari UUM yang ke STKS terlebih dahulu. Kami sempat hangout beberapa kali untuk saling tukar cerita dan berbagi pengalaman.
Penyerahan mahasiswa UUM ke STKS

Seminggu sebelum keberangkatan, saya tumbang.
Untuk kali pertama di bangku kuliah (karena semasa sekolah sudah pernah), saya mendapatkan perawatan rawat inap di rumah sakit dan harus beristirahat total.
Sebelumnya berhubung saya sadar ingin berangkat saya haruslah kerja extra, mengejar segala macam program kerja di organisasi yang saya ikuti agar ketika saya tinggalkan sudah tenang.
Tapi kenyataan berbeda, tubuh saya sudah tak kuat dan teman saya harus membawa saya ke Rumah Sakit Sariningsih, salah satu rumah sakit milik TNI yang berada di Kota Bandung.
Sempat 4 hari 3 malam saya menjalani perawatan (opname) disana karena diagnosa penyakit GEA (gastroenteritits).
Salah seorang sahabat saya juga berkata, "gi, jangan stres buat berangkat. Kamu di Malaysia ga sendiri, ko. Santai dan jalani aja dengan bahagia"
Saya akui, saya merasa stres ketika semakin dekat dengan hari keberangkatan.
Saya berfikir "apa saya sanggup menjalani perkuliahan disana?", "bagaimana keadaan kampung orang nantinya, ya?", "bagaimana bahasa yang akan saya gunakan nantinya, ya ?" dan segala macam pemikiran ada di otak saya.
Tapi setelah saya harus beristirahat total di rumah sakit dan dihibur oleh orang-orang terdekat saya, pemikiran saya tak berlebihan seperti dulu. Daat dikatakan lebih relax dan lebih siap untu berangkat.
Yeah, aku ga lama ko di sana.
Yeah, aku pasti bisa menjalani kehidupan di sana.
Be relax, I'm not alone!
Banyak orang-orang tersayangku yang menunggu aku kembali ke Indonesia, khususnya Bandung dan Banjarbaru.
I believe I can do!^^
.
.
See ya di ceritaku, Student Exchange part II, tentang kehidupan di UUM :) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

100 days being Exchange Student

Genap 100 hari saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa pertukaran di negara jiran Bermula dari akhir September 2015 hingga awal Januari 2016 Lika liku kehidupan sebagai mahasiswa pertukaran pun dirasakan Meskipun kata orang, Malaysia tak jauh beda dengan Indonesia tapi bagi saya beda..... Dari segi bahasa memang hampir sama, terlebih saya sebagai orang Banjar yang bahasanya ada bau-bau Melayu dan cukup saya mengerti Contoh kecil, seringkali tetangga kamar  di DPP saya berteriak kata-kata "lipas" Saya sih mengerti itu artinya kecoak karena di bahasa Banjar juga itu hehe namun roomate saya tidak tau apa itu lipas Sering sekali miss comunication dengan teman-teman disana karena kami yang masih belajar dan masih sering menggunakan bahasa Indonesia  Seringkali kita menemukan bahasa-bahasa unik, seperti nyanyuk yang artinya pikun, kebajikan yang artinya kesejahteraan dalam bahasa Indonesia kemudian penyelidikan yang artinya penelitian, dan adapula warga tua ...

Adventure for Holiday

Hai, readers! Kapan kamu ada waktu? Mau aku ajak melihat indahnya kalsel hehe :) Kyaaaa udah ngegombal aja maaf maaf Akhir tahun 2014 hingga 2015, sepertinya remaja Indonesia lagi digandrungi dengan liburan berbau alam Feel it? Ya, ketika gunung-gunung makin ramai dengan para penaik gunung, yang ga cuma bergabung di satuan mahasiswa pencinta alam Tapi sekarang asal mereka memiliki keberanian dan tekat yang tinggi untuk mencapai suatu puncak maka itu akan mudah tercapai Like your dream, hehe Back to the topic, about adventure Saya yang notabene nya adalah mahasiswa perantau otomatis merindukan tanah kelahiran saya, Kalimantan Selatan :") Ketika libur semester genap tiba, kami berencana untuk adventure - back to nature Kalimantan memang tidak memiliki gunung berapi Jadi memang hanya pegunungan-pegunungan / bukit yang ada di daerah saya Kali itu juga masyarakat Kalimantan Selatan juga termasuk orang-orang yang tekajut gunung Tekajut dalam bahasa Banjar artinya kag...

Tahun Baru, Status Baru!

Welcome to 2018! Horreeeeeee👏 Ketika aku memasuki tahun 2018 ini, statusku berubah! Eits maksudnya, dari dulu yang berstatus mahasiswi sekarang Alhamdulillah Yang Diatas sudah memberiku pekerjaan hehehe (Sebenarnya sih maunya status "belum menikah"ku juga berubah, semoga, aamiin😅) Sedikit bercerita tentang pekerjaanku. Di tulisan sebelumnya aku sempat menulis "aku memang harus mengabdi dengan "ibuku" dan daerahku untuk memajukan tanah kelahiranku". Ketika aku ditanya orang untuk bekerja dimana, hmm bingung sih bilangnya gimana karena tidak semua orang tahu hehe. Jadi gini, Kementrian Sosial RI memiliki program yang berkaitan dengan pemberantasan kemiskinan disebut Program Keluarga Harapan (PKH). Nah di program tersebutlah aku mencari rejeki. Jadi kita bekerja untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan aku ditempatkan di Kota Banjarbaru, Alhamdulillah di tanah kelahiranku sendiri. Nah dalam Pelaksana PKH tersebut terdapat beberapa posisi seperti ...