Sebagaimana dasarnya, saya adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung dimana tujuan kita pastinya ingin mewujudkan cita-cita bangsa dan negara yang terkandung dalam Undang-Undang 1945 yaitu, mensejahterakan masyarakat Indonesia. Di kampus ini saya mengikuti kegiatan Developing Indonesia, bukan sebuah UKM tapi bisa disebut organisasi dibawah naungan Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia. Dimana kegiatan dalam Developing Indonesia ini diadakan di hari jumat berupa parktivity atau pemberian materi dan sabtu besoknya kita turun kelapangan bisa ke sekolah Mekar Wangi di daerah Lembang ataupun ke Kampung 200.
Jujur ini pertama kali saya ikut turun ke lapangan, dan memilih untuk ikut ke Kampung 200. Kampung 200 terletak di sekitar Cisitu, dari daerah Dago bisa ditempuh dengan menggunakan angkot dengan biaya 2000 rupiah. Kali ini kita berangkat sekitar jam 16.30 dan cuaca tidak mendukung perjalanan kami, dengan hujan yang berkapasitas lumayan deras tetap kita tempuh tanpa naik angkot melainkan jalan kaki dengan mengenakan payung pastinya. Bagi teman-teman saya, ke Kampung 200 merupakan perjalanan kesekian kalinya. Kata mereka, perjalanan bisa ditempuh sekitar 45menit dengan jalan kaki dan dengan jalan yang tidak lurus, ya namanya juga Bandung jalan tanjakan dan turunan mungkin sudah tidak asing. Awalnya saya berfikir 45 menit itu sangat lama, tapi kita sangat menikmati perjalanan kaki ini sambil sharing masalah kuliah dan sebagainya. Mengeluh itu pasti, capek itu wajar, ditambah lagi cuaca yang tidak bersahabat.
Akhirnya kita melewati gang kecil dengan ratusan anak tangga melebihi tangga di Candi Borobudur, dan memasuki sebuah kampung padat penduduk. Miris dan syok awalnya ketika melihat kampung ini. Padahal, ini masih tergolong di"kota", dimana ketika perjalanan kita melewati kawasan perumahan yang dapat dikatakan elit. Ketika tiba diruangan kecil, sudah ada terkumpul beberapa anak kecil sekitaran masih SD menunggu kedatangan kita. Tampang mereka sangat bahagia saat melihat kita. Sedikit terharu. Sedikit terbayar kelelahan kita dimana menempuh perjalanan macam bocah petualang dengan ratusan anak tangga. Sesampai disana kita bermain, mengajarkan materi SD, dan sharing pastinya. Seru sekali bermain dengan mereka. Tak terasa adzan magrib terdengar, anak-anak tersebut pulang ke rumahnya masing-masing disekitar ruangan tersebut. Dan kita memutuskan akan pulang setelah solat magrib. Terdapat sebuah mushola kecil disana, dimana kita mengambil air wudhu dengan harus menimba air di sumur, dan di tempat pengambilan wudhu tersebut tidak ada listrik, gelap pastinya. Outdoor tempatnya. Dan saya melihat terdapat perumahan elit atau beberapa apartemen diseberang sungai yang tidak jauh dari tempat kita mengambil air wudhu. Ya, disamping mushola ini terdapat petakan sawah kecil dan ada pula sungai yang membatasi antara kampung 'miris' ini dengan perumahan elit disana. Mushola ini begitu sepi, hanya terdapat seorang imam juga sebagai muadzin disini dan dua anak kecil perempuan sedang solat. Kampung ini sungguh berbanding terbalik dengan 'kampung' diseberang sana.
Dengan letaknya yang rendah karena untuk masuk kita harus menuruni anak tangga itu, sempat saya berfikir, bagaimana jika ada tanah longsor atau banjir? Sangatlah rentan daerah ini untuk mengalami bencana alam itu. Tidak ada lahan tersisa disana, karena begitu padatnya tempat tinggal mereka. Setidaknya kami bisa membantu untuk membimbing tambahan belajar dengan anak-anak disana. Semoga dengan seiring berjalannya waktu kampung ini bisa menjadi perumahan yang diseberang mereka. Bisa lebih maju dari yang kita bayangkan, aamiin. Terimakasih Developing Indonesia!^^

Komentar
Posting Komentar